SLEMAN, INFOJATENGNEWS.COM — Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, S.Sos., M.Si., M.Sc., menghadiri pagelaran seni tradisional wayang kulit dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-61 Batalyon Infanteri (Yonif) 403/Wirasada Pratista. Kegiatan budaya ini digelar meriah di Markas Komando (Mako) Yonif 403/Wirasada Pratista, Sleman, Jumat (31/7/2026).
Acara yang berlangsung penuh kehangatan turut dihadiri Kasrem 072/Pamungkas, para Kasi Korem 072/Pamungkas, Dandim 0732/Sleman, Kepala Korps Yonif 403/WP, jajaran Forkopimda Kabupaten Sleman, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Sleman, tokoh masyarakat, serta tamu undangan lainnya.
Pagelaran dibawakan dalang kondang asal Sleman, Ki Sancoko Hadi Prayitno, dengan lakon bertajuk “Wahyu Eka Bawana”. Pertunjukan dibuka untuk umum, sekaligus menjadi sarana hiburan rakyat dan ruang silaturahmi.
Dalam sambutannya, Danrem menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi Yonif 403/Wirasada Pratista yang kini memasuki usia 61 tahun — usia yang matang dan sarat jejak sejarah perjuangan membela NKRI.
“Selama enam dekade, Yonif 403/Wirasada Pratista telah membuktikan diri sebagai satuan yang tangguh, disiplin, dan profesional dalam menjaga kedaulatan wilayah NKRI. Saat ini, para prajuritnya juga sedang mengemban amanah besar melaksanakan tugas negara di Provinsi Papua demi menjaga keutuhan kedaulatan bangsa,” tegas Brigjen Yuniar.
Lebih lanjut, Danrem menjelaskan bahwa penyelenggaraan pagelaran wayang kulit setiap menyambut HUT 1 Agustus merupakan tradisi tahunan Yonif 403/WP. Berkedudukan di wilayah yang kaya nilai seni, satuan ini merasa terpanggil untuk turut melestarikan warisan budaya leluhur. Mengingat wayang kulit telah diakui UNESCO sejak 7 November 2003 sebagai Warisan Budaya Takbenda Kemanusiaan, ia pun mengingatkan pentingnya peran generasi muda menjaga warisan tersebut di tengah arus modernisasi.
“Sangat ironis jika wisatawan asing justru berbondong-bondong mempelajari wayang, gamelan, dan tarian kita, sementara generasi muda makin menjauh. Wayang bukan sekadar hiburan, melainkan media refleksi dan falsafah hidup. Sudah menjadi tugas kita bersama untuk terus melestarikannya,” imbuhnya.
Lakon Wahyu Eka Bawana yang dipentaskan menyimbolkan kasepuhan, kepemimpinan, serta penyatuan energi kebaikan demi mewujudkan kedamaian dan kesejahteraan bersama. Danrem menekankan pesan moral tersebut sangat relevan bagi seluruh prajurit maupun masyarakat: untuk meraih kejayaan dan menjaga ketenteraman, dibutuhkan kesatuan tekad, keikhlasan berbakti, serta kepemimpinan yang berlandaskan moralitas.
Pagelaran yang membaurkan prajurit TNI dan warga Sleman ini menjadi bukti nyata kokohnya kemanunggalan TNI dengan rakyat — bahwa TNI lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan akan selalu berada di tengah rakyat.
Sumber: Penrem 072/Pamungkas/Red






