Banyumas Infojatengnews.com โ Dalam semangat memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, perwakilan dari 17 PAC Muslimat NU se-Kabupaten Banyumas berkumpul di Rumah Makan Oemah Daun, Jalan KH. Wahid Hasyim No.101โ103, Windusara, Karangklesem, Purwokerto Selatan, pada Minggu (16/8/2026). Kegiatan ini sekaligus meluncurkan gerakan nyata: menolak LGBT, mencegah narkoba, dan mencegah HIV/AIDS.
Acara dibuka oleh Hj. Sumanah Hisyam, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ihsan, Leler, Randegan, Kebasen. Turut hadir Prof. Dr. Wahyuningrat, M.Si. โ profesor dan dosen FISIP Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, serta Dr. Ernawati, S.Ag., M.Pd. Hadir pula Gus Lukman sebagai pembicara, para ketua ketua PAC,Ranting, Tokoh masyarakat, dari berbagai penjuru wilayah Banyumas. Di antara hadirin ada beberapa yang juga sebagai akademisi, tokoh agama, hingga pelaku usaha โ orang-orang hebat berkumpul dalam satu suasana kekeluargaan.
Inayaturokhmah, S.Pd. selaku Ketua Panitia acara Up Grading 17 PAC Muslimat( Ijtaba ) menyampaikan bahwa peringatan kemerdekaan kali ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud kepedulian terhadap tiga persoalan yang perkembangannya dinilai sangat luar biasa dan mengkhawatirkan di Wilayah Kabupaten Banyumas.
“Kami berusaha merangkul semua pihak โ bersama ketua PAC dan seluruh ketua Rantingโ untuk bersama-sama memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kepada anak-anak kita. Agar mereka terhindar dari ketiga bahaya tersebut dan tumbuh menjadi generasi yang sehat, bersih, dan berakhlak mulia,” ujarnya.
Harapan yang disampaikan sederhana namun mendalam: semoga Indonesia semakin merdeka merdeka dari segala ancaman bahaya moral dan kerusakan. “Terutama rakyat kecil, agar kemerdekaan ini tidak hanya dirasakan oleh segelintir orang saja, tetapi benar-benar dirasakan hingga ke akar masyarakat paling bawah.”
Di sisi lain, terkait dinamika internal di jajaran PC Muslimat NU Kabupaten Banyumas, disampaikan bahwa upaya perdamaian telah ditempuh ke wilayah maupun ke Pengurus Pusat.
“Kami berharap semua pihak bisa duduk bersama, berkomunikasi dengan baik, dan tidak mengedepankan ego. Perlu kita sadari bahwa Muslimat adalah organisasi keagamaan, sosial, dan kemasyarakatan. Sudah selayaknya persoalan diselesaikan dengan kepala dingin dan kebersamaan,” demikian ditegaskan.
Dijelaskan pula, dari 21 PAC yang ada, sebagian besar berjalan baik. Sebanyak 17 PAC kini bergerak bersama, sementara sisanya berdiri sendiri. Secara jumlah, Cilongok mencatat hingga 6.000 anggota, Kebasen lebih besar, sedangkan PAC lainnya masing-masing sekitar 4.000 hingga hampir 5.000 orang, dengan rata-rata per PAC mencapai sekitar 5.000 orang.
“Harapan kita satu: selalu ada peningkatan, tidak diam di tempat, tidak mundur. Bagi yang saat ini belum mampu, tidak perlu dipaksakan tetaplah di dalam jamaah, tetap bersatu. Selama kita berpegang pada satu tujuan dan tetap kompak, insya Allah kita kuat,” demikian pesan yang disampaikan.
( Iwan/ Red )








