Garut,Infojatengnews.com
Di sudut jalan yang mulai cerah oleh, aroma gurih kelapa parut dan adonan tepung beras
menyeruak di antara bisingnya suara kendaraan.
Di sana, seorang pria paruh baya dengan guratan lelah di wajahnya tengah sibuk membolak-balik penganan di atas loyang besi panas.
โIa adalah Pak Nasihin (59), warga Kampung Cipicung, Desa Hegarmanah, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut, Ia seorang pejuang jalanan yang sudah kurang lebih 16 tahun setia memikul gerobak Bandros demi menyambung hidup.
โDi era gempuran kuliner modern yang serba instan dan kekinian, pilihan Pak Nasihin untuk bertahan pada kue tradisional jadul ini bukan tanpa risiko. Seringkali, ia harus menelan pil pahit saat dagangannya sepi peminat ditambah harga mahal minyak bakar/minyak tanah. Namun bagi Nasihin, bandros bukan sekadar cara mencari uang, melainkan jembatan impian bagi masa depan anak-anaknya.
โAir Mata di Balik Gurihnya Bandros
โPerjalanan kurang lebih 16 tahun tentu bukan waktu yang singkat.
Nasihin menceritakan bagaimana pasang surut kehidupan menguji keteguhannya. Ada hari-hari di mana ia yang melelahkan apalagi kalau hujan lebat membuat penikmat bandros enggan keluar rumah.
โ”Saya bangun sebelum adzan subuh membuat adonan, seteleh melaksanakan sholat subuh saya langsung berangkat dengan menempuh kiloan meter,” ujarnya
Saya dari rumah tidak sarapan dulu, paling kalau sudah siang beli kupatahu, sekira jam 11.00 saya pulang, setibanya, setelah sholat duhur mencari rumput untuk domba, ya lumayan punya 3 untuk penyambung hidup anak-anak saya 3 kan”, lanjutnya.
“Selain mencari rumput ya paling kerja serabutan termasuk tani, apa saja, kalau tidak seperti ini susah, makanya yang penting halal di sisa waktu setelah jualan saya kerja apa saja,” berkenang Nasihin, matanya tampak berkaca-kaca mengingat kehidupannya yang tegar.
โTidak jarang, adonan bandros yang tidak habis terbuang sia-sia karena tidak bisa bertahan lama. Namun, setiap kali rasa lelah dan putus asa itu datang, Nasihin selalu memandangi wajah anak-anaknya yang terus tumbuh besar.
Rasa lelah itu seketika menguap, berganti menjadi bahan bakar semangat yang baru.
โMerawat Tradisi, Melahirkan kesuksesan anak-anaknya.
โDi tengah gempuran zaman, konsistensi Pak Nasihin membuahkan hasil yang luar biasa. Siapa sangka, dari sebongkah kue bandros murah meriah yang harganya tak seberapa,
Pak Naisihin berhasil menafkahi keluarganya secara halal. Lebih dari itu, ia mampu mematahkan stigma bahwa anak seorang pedagang kecil tidak bisa mengenyam pendidikan.
โDari hasil keringatnya memikul gerobak:
โAnak-anaknya kini tumbuh besar ada yang sudah berkeluarga.
โ”Saya ini orang susah, gak punya warisan apa-apa buat anak. Cuma pendidikan yang bisa saya kasih supaya nasib mereka tidak perih seperti bapaknya,” ujar Nasihin sambil menyeka keringat di dahinya.
โPahlawan Kuliner yang Sesungguhnya
โApa yang dilakukan Pak Nasihin adalah bukti nyata dari sebuah ketulusan dan kerja keras. Ia tidak hanya menjadi pahlawan bagi keluarganya, tetapi juga menjadi penjaga budaya. Di tangannya, kue bandrosโkuliner legendaris yang perlahan mulai dilupakanโtetap eksis dan memiliki cita rasa yang tidak pernah berubah sejak 16 tahun lalu.
โKisah Pak Nasihin mengajarkan kita bahwa pekerjaan apa pun, seberapa pun kecilnya di mata manusia, jika ditekuni dengan keikhlasan dan cinta, akan mampu menghadirkan keajaiban yang besar.
โSaat siang semakin maju, Pak Nasihin kembali memikul tanggungannya menjauhi keramaian kota Bungbulang. Di bawah terik matahar dan panasnya jalan.
Pak Nasihin berhasil memikul masa depan generasi penerusnya menuju gerbang kesuksesan.
(Enjang/Red)






