PEMALANG — Berita kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia kian mendominasi pemberitaan dalam beberapa waktu terakhir. Hampir setiap hari masyarakat disuguhi informasi mengenai titik api yang muncul di berbagai wilayah, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan di tengah masyarakat — mulai dari ASN, mahasiswa, petani, nelayan, hingga masyarakat umum: mengapa hutan terus terbakar, dan apa dampak besarnya bagi kehidupan di Indonesia?
Dampak pada Kesehatan Masyarakat
Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah wilayah dilaporkan mengalami peningkatan titik api dan kabut asap. Dampak langsungnya dirasakan oleh kesehatan masyarakat. Data Kementerian Kesehatan mencatat, secara akumulatif sejak Agustus hingga Oktober 2026 telah tercatat 314.124 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla. Dari jumlah tersebut, 70.890 kasus dialami anak usia 0–5 tahun, dengan jumlah kasus tertinggi tercatat di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.
Satwa Liar Juga Menjadi Korban
Namun dampak buruk karhutla tidak dirasakan manusia saja. Hewan liar penghuni hutan — mulai dari hewan pengerat, mamalia, hewan buas, hingga berbagai spesies unggas — juga menjadi korban. Angka pasti hewan yang mati belum terdata, namun kerusakan habitat akibat kebakaran berdampak besar pada kelangsungan hidup mereka.
Secara alami, satwa sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi terhadap api. Burung terbang menjauh, mamalia berlari, amfibi dan hewan kecil bersembunyi di dalam tanah, batang kayu, atau di bawah bebatuan. Beberapa hewan besar pun berlindung di perairan. Seperti dijelaskan ahli ekologi ekosistem Mazeika Sullivan dari Ohio State University, api sesungguhnya adalah bagian alami dari lanskap — beberapa spesies bahkan membutuhkan api untuk bertahan hidup dan berkembang biak.
Namun, intensitas dan luas kebakaran yang terjadi saat ini sudah melampaui batas kemampuan adaptasi banyak spesies. Ditambah lagi perubahan iklim yang meningkatkan suhu dan memperpanjang musim kemarau, membuat lanskap semakin kering dan rentan terbakar, sehingga api semakin sulit dikendalikan.
Kerugian yang Tak Sedikit
Kebakaran hutan juga menghilangkan kekayaan sumber daya hutan yang merupakan aset dan potensi negara. Hutan yang terbakar membutuhkan waktu puluhan tahun untuk kembali seperti semula, sementara jasa lingkungan seperti penyerapan karbon, penyimpanan air, dan pencegah erosi ikut hilang.
Tim redaksi berharap permasalahan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia dapat segera teratasi, agar kerugian bagi manusia, satwa, dan kekayaan alam tidak terus berulang.
Tim/Red








