SALATIGA,Infojatengnews.com – Jumat, 25 September 2026 — Kasus dugaan pengabaian pelayanan medis darurat di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Salatiga kian mengemuka. Pasien bernama M. Sholeh tiba di UGD pada Jumat, 25 September 2026, sekitar pukul 20.25 WIB dalam kondisi kritis: paru-parunya masih terpasang selang, dada terasa nyeri hebat, kepala pusing, dan seluruh tubuh terasa panas. Namun alih-alih mendapat pertolongan segera, pasien justru ditahan, ditolak, dan disarankan pindah ke rumah sakit lain.
Menunggu 2 Jam “Evaluasi”, Dinyatakan “Baik-baik Saja”
Berdasarkan keterangan keluarga, oknum petugas UGD meminta pasien menunggu dua jam dengan alasan proses “evaluasi”. Selama masa penantian tersebut, tidak ada tindakan medis lanjut yang memadai dilakukan, meskipun M. Sholeh terus mengeluh kesakitan. Setelah dua jam berlalu, pihak UGD justru menyatakan kondisi pasien baik-baik saja dan menolak rawat inap — padahal selang penunjang pernapasan masih terpasang dan keluhan sakit tidak mereda.
Oknum Perawat Sarankan Pindah ke RS Ngawen, Keluarga Siap Bayar Mandiri Tetap Ditolak
Saat keluarga memohon perawatan, bahkan menyatakan bersedia membayar secara mandiri jika klaim BPJS tidak dapat digunakan, permohonan tetap tidak dipenuhi. Salah satu oknum perawat justru menyampaikan pernyataan yang dinilai tidak pantas:
“Kalau pasien tidak berkenan, silakan saja jika mau dipindah ke RS Ngawen,” ujar oknum perawat RSUD Salatiga.
Saran ini dinilai berisiko, mengingat kondisi pasien yang masih kritis serta jarak tempuh ke RS Ngawen yang cukup jauh.
Sesampainya di RSI Tingkir, Langsung Ditangani — M. Sholeh: Penanganannya Memuaskan
Karena tidak mendapat pelayanan yang layak, keluarga terpaksa memindahkan M. Sholeh ke Rumah Sakit Islam (RSI) Tingkir, Salatiga. Perbedaan perlakuan sangat terlihat jelas: sesampainya di sana, pasien langsung mendapatkan penanganan medis secara cepat, tepat, dan ramah. M. Sholeh sendiri mengonfirmasi hal tersebut:
“Saat sampai di RSI Tingkir, saya langsung ditangani. Penanganannya sangat baik dan memuaskan,” ujar M. Sholeh.
Perbandingan perlakuan ini semakin menguatkan dugaan adanya pengabaian pelayanan di RSUD Salatiga.
Bukan Kasus Tunggal, Pimpinan Kota Diminta Tindak Tegas
Laporan yang diterima redaksi mengindikasikan penolakan serupa juga dialami beberapa pasien lain di UGD RSUD Salatiga. Masyarakat mendesak Wali Kota Salatiga, Ketua DPRD Kota Salatiga, serta Kepala Dinas Kesehatan Kota Salatiga untuk:
– Menyelidiki dugaan pengabaian pasien di UGD RSUD Salatiga secara menyeluruh;
– Menindak tegas oknum yang terbukti mengabaikan keselamatan pasien maupun menyampaikan ucapan tidak pantas;
– Memastikan pelayanan di RSUD kembali mengutamakan keselamatan dan kemanusiaan.
“Di RSUD ditolak dan disuruh pindah, di RSI Tingkir langsung ditangani dengan memuaskan. Ini bukti nyata perbedaan layanan. Nyawa tidak boleh dipermainkan,” tegas pihak keluarga.
Belum Ada Tanggapan Resmi
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi maupun keterangan resmi dari pihak manajemen RSUD Salatiga. Redaksi akan terus memantau perkembangan.
Tim/Redaksi








